Tampilkan postingan dengan label BUDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2017

Ada Apa dengan BUDI (IIIb)

Persiapan Keberangkatan 



Seperti janji saya sebelumnya, saya akan bercerita tentang dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk keberangkatan lanjut studi ke luar negeri-Jepang- di luar yang berhubungan dengan kampus. Untuk dokumen yang berhubungan dengan kampus, silahkan dibaca di kisah sebelumnya.

Dokumen-dokumen non kampus ini sebenarnya hanya 3 saja yang dibutuhkan yaitu paspor, CoE dan visa. Untuk kasus saya, karena saya adalah awardee yang berstatus sebagai pengajar maka urusan perpasporan saya masukkan ke bagian yang berhubungan dengan kampus. Beda halnya dengan pengurusan paspor suami dan dua bocah-bocah saya. Sedari awal meniatkan diri lanjut studi ke negerinya Batosai, saya sudah bersepakat dengan suami akan menempuh bersama-sama sedari awal perjuangan ini. Jadi -jika kebanyakan awardee membawa keluarga 3 hingga 6 bulan kemudian-, saya justru nekat membawa keluarga bersama-sama dari awal. Kok nekat? Mungkin itu pertanyaannya. Yah nekat menurut bapak saya, karena kebanyakan teman-teman (dan hampir semua senpai di tempat saya melanjutkan studi menggunakan opsi ke-2, sehingga mereka menyarankan melakukan opsi ke-2 juga), namun dengan berbekal om google, saya percaya bisa berangkat bersama.

Jadi kembali ke dokumen. Kita anggap masalah paspor sudah selesai. Untuk anak dan suami, karena tidak dalam rangka dinas dan kerja, maka mereka menggunakan paspor hijau. Untuk masalah visa, untuk suami dan anak, karena mereka adalah pendamping dan tidak memiliki guarantor di negara tujuan, maka visa yang mereka apply adalah visa visit yang bersifat temporal, dalam hal ini visa wisata yang memiliki limit 3 bulan sejak diterbitkan. Nah yang mulai banyak membutuhkan dokumen adalah pengurusan visa saya, karena saya dalm status sebagai pelajar, maka visa yang harus saya apply adalah visa dependent, dan untuk mendapatkan visa dependent itu harus menyertakan CoE dari imigrasi negara yang ingin kita tuju

CoE (Certificate of Eligibility)

CoE
Seperti yang tertera pada Certificate of Eligibility di atas, CoE ini nantinya akan dibutuhkan saat pengurusan visa dan akan diminta oleh pihak imigrasi di negara tujuan saat kita tiba nantinya. Untuk mendapatkan surat sakti ini, kita harus mengajukan dengan cara mengisi beberapa form dengan melampirkan beberapa berkas. Contoh isian form application for CoE dapat dilihat pada gambar di bawah, sementara template application for CoE dapat diunduh di sini
Application for CoE

                                             
Bersama dengan form di atas, dilampirkan berkas-berkas syarat tambahan lainnya (karena saya dalam misi tugas belajar, maka selain paspor, pas photo, juga LoA, LoG (letter of guarantee) dan LoS (letter of sponsorship)). Kedua letter terakhir adalah semacam surat garansi masalah keuangan kita nantinya di sana. Kedua surat ini diterbitkan oleh lembaga sponsor beasiswa-dalam kasus saya LPDP-.
LoG

LoS
Normalnya, CoE kita akan terbit 3 pekan setelah mereka mendapatkan segala dokumen prasyarat untuk CoE, namun terkadang juga lebih cepat. CoE ini penting sebagai bagian syarat pengurusan visa. Jadi, sebaiknya setelah pengumuman beasiswa muncul, segera mungkin mengurus surat ini. Dalam kasus saya, karena kami (saya dan kedua teman yang lolos bersama dari BUDI LN ke Ehime university) berpikir kalau dokumen prasyaratnya adalah paspor biru, sehingga proses pengurusan CoE ini kami tunda lebih sebulan (ternyata,menggunakan paspor hijau pun bisa sebagai prsayarat).

Setelah CoE di tangan, barulah kami mengurus visa di Konsulat Jenderal Jepang di Makassar (pengurusan visa, sesuaikan dengan wilayah kerja konsulat masing-masing, lihat link Konjen di Indonesia). Untuk pengurusan visa, saya mengambil visa dependent yang merupakan bagian visa khusus dengan adanya CoE ini. Untuk penjelasan tentang jenis-jenis visa ke Jepang dan syaratnya dapat dilihat di sini. Untuk syarat-syaratnya, secara umum adalah paspor, CoE, form, photokopi KTP. Namun terkadang di beberapa konjen memberikan prasyarat tambahan seperti untuk Makassar -untuk visa khusus-, saya diminta untuk melampirkan LoA, LoG, LoS, exit permit, pas photo, surat keterangan bekerja dari instansi/izin dari tempat kerja, serta tiket berangkat. Normalnya, visa akan selesai 3 hari setalah apply dokumen.


Ada Apa Dengan BUDI (II)




Sebelumnya, saya telah bercerita tentang tahap awal dalam seleksi BUDI, seleksi berkas. Jadi, jika tahap itu kita dinyatakan lulus, maka kita harus melalui tahap berikutnya, yaitu wawancara. Konon katanya pada seleksi wawancaralah, banyak calon awardee BUDI berjatuhan. Sekedar gambaran peserta pada BUDI LN tahun 2016, dari 1.811 pendaftar, yang lols ke seleksi wawancara hanya 273 peserta. Kuota saat itu adalah 300 awardee, secara hitung-hitungan, harusnya 273 peserta wawancara tersebut lulus untuk memenuhi kuota  😁, tapi sistem tersebut tidak berlaku di sini. Kenyataannya yang akhirnya lolos hanya 168 orang, yang berarti  terdapat 105 orang yang tidak lulus.

Ok...back ke wawancara BUDI LN, proses wawancara ini juga melalui tahap. Saat melakukan wawancara, ada beberapa hal yang harus disiapkan, dan itu biasanya disampaikan bersamaan dengan surat penaggilan wawancara. Kalau saya, untuk amannya, semua berkas yang kemarin saya upload dan masukkan saya bawa plus print out rekam jejak percakapan saya dengan sensei (SPV)-in all case banyak interviewer menanyakan hal tersebut-.

Saat di sentra wawancara, kartu peserta merupakan barcode kita untuk masuk. Saat verifikasi berkas, yang mendapat perhatian khusus adalah sertifikat TOEFL dan LoA. Menurut mas-mas LPDP yang melakukan verifikasi berkas, banyak calon peserta wawancara baik dari LPDP reguler maupun BUDI yang terindikasi menggunakan sertifikat TOEFL yang dipertanyakan. Konteks dipertanyakan di sini, mulai dari keasliannya, hingga kredibilitas penyelenggara TOEFL. Menurut mas-mas tadi, di Makassar sendiri ada beberapa lembaga penyelenggara TOEFL yang telah mereka blacklist. Alhamdulillah, lembaga seperti UNM dan UNHAS termasuk yang valid. Masih dari cerita-cerita dengan mas-mas tadi, untuk kasus LoA, ternyata menjadi perhatian juga. Karena, ternyata pengadaan LoA itu sekarang menjadi lahan bisnis juga. Banyak peserta (mas-masnya ga mau menyebut detailnya, cuma bilang LPDP reguler dan BUDI) yang menggunakan jasa biro ini. Dan cara mereka mengetahui kalau LoA kita asli atau tidak ternyata melalui rekam jejak email tadi. Karena yang LoA melalui biro tadi, diadakan tanpa melalui kontak lebih dahulu -kalau yang saya tangkap, dokumen formalitas saja untuk pelengkap dokumen berkas-.

Saat sesi wawancara pada dasarnya agak mirip dengan LPDP reguler, kecuali untuk BUDI ini pengadaan LGD (Leaderless Group Discussion) ditiadakan. Saat sesi wawancara kebetulan lagi ramadhan, jadi Alhamdulillah menurut saya lebih khusyuk. Untuk Makassar, saat itu ada 44 peserta. Alhamdulillah saya dan 2 teman seperjuangan sejak tes awal untuk masuk Ehime University berada di sentra yang sama untuk test wawancara -meskipun kami berada di group yang berbeda-. Setiap group akan bertemu dengan 3 interviewer -dalam case BUDI, saya lihat 2 merupakan representasi Dikti, dan 1 reprenstasi LPDP-. Karena term yang saya ambil adalah LN maka wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris

Materi Wawancara

Materi yang ditanyakan apa saat wawancara, pada dasarnya tergantung interviewer masing-masing. Ada yang ditanyakan pertanyaan umum sesi sesi wawancara lainnya, ada juga yang tidak. Kalau yang saya lihat dari pengalaman dan share dengan teman-teman lainnya, kelompok tema pertanyaan terdiri atas

  • Perkenalan diri. Kebanyakan calon peserta diminta untuk memperkenalkan diri, dalam kasus saya, meskipun tidak diminta untuk memperkenalkan diri, tapi arah pertanyaan tetap ke sana (usia berapa, kerja di mana, sudah berapa lama kerja, sudah menikah, bagaimana keluarga dll). Perkenalan diri ini juga berusaha mengorek apa karya kita (karya yang ditanyakan disini adalah publikasi-karena posisi saya sebagai dosen-), dan karena saya tidak memeiliki satupun publikasi, maka ini adalah kelemahan saya, dan inilah yang dibombardir sama salah seorang pewancara😀😀. Bagian ini juga akan berusaha mengupas bagaimana anda-pertanyaan umum dari mereka adalah "What make you special to receive this scholarship/what differs you from other applicants?" atau "What are your strengths? or What are your weaknesses and how will you improve all of those?"atau lebih simpelnya "tell me about your self?"..pokoknya seperti itulah. Dan untuk pertanyaan ini, hindari memberikan jawaban dari google seperti I am a hardworker person or highly motivated person and atau  I  have a strong desire to learn. Karena jawaban itu menurut interviewer,,,basi....hehehehe...Jadi berikan jawaban yang unik yang kira-kira ditelinga interviewer cukup pas untuk mengatakan "this is so you". Pada bagian ini juga biasanya ditanyakan alasan memilih beasiswa ini, uni ini dan SPV ini.
  • Tentang reserach proposal. Nah kalau dibagian ini, intinya satu. Kuasai proposal research kita
  • Tentang calon SPV. Untuk case ini, biasanya interviewer meminta print out bukti mail-emailan kita dengan SPV. tapi untuk case saya agak beda. Interviewer melihat bagaimana saya mengenal dekat SPV saya. Jadi, saat wawancara saya ditanyakan focus interest sensei dan hubungannya dengan research saya. Selain itu -karena dalam beberapa jurnal terdahulu sebelum berlabuh di ehime university sensei mengatasnamakan almamaternya di osaka university-, salah satu interviewer menayakan hal tersebut. Alhamdulillah, karena sebelumnya saya memang sudah hunting profil sensei berikut jurnal-jurnalnya, pertanyaan itu dapat saya atasi. Jadi kata kunci di sini, kenali baik-baik calon SPV anda.
  • Tentang survive di negeri asing. Untuk tahap ini, kebetulan 2 interviewer adalah alumni Jepang, jadi saya sempat ditanyakan apakah saya bisa berkomunikasi dengan Nihonggo. Saya jawab saja apa adanya, namun berikan tambahan penjelasan kalau kita dapat survive -misalnya, nanti di sana akan ada kelas Nihonggo untuk international student selama 6 bulan- . Untuk yang muslim bagaimana bertahan di negeri non muslim (khususnya untuk halal food dan shock culture). Untuk yang sudah berkeluarga, bagaimana keluarga, apakah ikut atau tidak. Kalau ikut, bagaimana disana. Kalau tidak ikut, apakah tidak akan mengganggu. Bagaimana jika tidak bisa selesai tepat waktu. Intinya yang saya lihat interviwer ingin melihat persiapan kita kuliah, apakah sudah well prepared semuanya atau tidak.
  • Tentang rencana studi. Nah kalau yang ini, biasanya ada hubungannya dengan research proposal, tapi bagian ini lebih ke action. Misalnya, untuk case saya karena tidak memiliki satu publikasi pun, bagaimana saya bisa menghasilkan satu publikasi, apa rencana saya. Mau publikasi apa? Di mana? Survey data nanti bagaimana?
  • Yang terakhir adalah rencana pasca studi. Biasanya pertanyaan interviewer seputaran rencana setelah selesai apa? Ada juga yang iseng menanyakan, kalau ditawari kerja di sana bagaimana?
  • Pertanyaan umum. Bagian ini lebih ke pengetahuan umum, seperti pandangan tentang plagiarism, korupsi, perbedaan hingga Pancasila
Untuk wawancara ini, kalau ditanya kata kuncinya sih menurut saya, yang utama adalah kejujuran, lalu kuasai segala jenis dari hal mendetail hingga yang umum dari proposal kita, well prepared (kuasai segala hal yang berhubungan dengan kuliah kita-kampus,uni,kotanya,negaranya,budayanya-, jika tidak mengetahui sesuatu katakan tidak dan alasannya dan rencana untuk mengetahuinya, dan berdoa serta tawakkal.
Beberapa pertanyaan, terkadang menjadi pancingan untuk pertanyaan berikutnya, seperti kasus saya tentang plagiarism. Karena saya memang tidak mempunyai pengalaman dengan dunia jurnal dan publikasi, pemahaman saya tentang plagiarism sangatlah awam. Dalam proposal saya, meskipun saya menulis setiap kutipan melampirkan nama penulisnya (saat itu saya menganggap kalau itu bukan plagiarism), ternyata termasuk dalam plagiarism. Saya jelaskan kalau saya masih awam tentang paraphrasing dan plagiarism, itulah sebabnya saya ingin melanjutkan studi di luar untuk lebih mengetahui dunia publikasi. Kalau mau ditanyakan tentang perasaan setelah wawancara, saya merasa berada dalam porsi 50:50 akan lulus di sesi itu, karena masalah plagiarism tersebut. Tapi saya merasa optimis, karena saya memberikan penjelasana akan ketidaktahuan saya dan rencana memperbaiki kelemahan saya yang saya hubungkan dengan rencana lanjut studi.
Saat melakukan wawancara juga -yang ini sharing dari teman peserta-, hindari untuk menjadi sok pintar. Menjadi sok pintar dan pintar itu beda. Secara psikologis teorinya cukup masuk sih menurut saya. Biar bagaimana pun juga, seorang interviewer memiliki nilai ego yang lebih dari interviewee, dan menurut rekan itu juga bahasa tubuh dan tone kita saat berbicara dapat terbaca 'sok pintar' bagi interviewer, dan secara manusiawi siapapun di posisi interviewer biasanya tidak menyukai hal tersebut.

Sesi wawancara ini nantinya akan diputuskan melalui judisium bersama antara seluruh interviewer. Saat judisium, rekaman wawancara setiap peserta akan diputarkan untuk memutuskan kita layak lulus atau tidak (info dari mbak-mbak dikti dan mas-mas LPDP di sentra wawancara). Alhamdulillah, meskipun hanya percaya 50% biasa lulus, ternyata nama saya termasuk dalam 168 orang yang dipanggil untuk ikut pembekalan pra keberangkatan di Yogyakarta 12 agustus kemarin. Bismillah, perjalanan insya Allah dimulai.

Suasana pasca wawancara di ruang tunggu wawancara Hotel Singgasana
kami bertiga (Citra anggita, Baso Nasrullah dan saya) bersama memulai test dari berburu SPV di Hasanuddin university hingga test wawancara di Hotel Singgasana Makassar

Yang sedang dag dig dug menunggu giliran wawancara


Rabu, 28 Desember 2016

Ada Apa Dengan BUDI


Kalau dengar kata BUDI, kebanyakan langsung teringat buku paket bahas Indonesia era tahun 80an. Buku-buku itu memang terkenal dengan pelajaran paket membaca ala ini Budi, ini bapak Budi, Ini ibu budi (dan percaalah nama Budi, waktu itu sangat populer).
Hasil gambar untuk +buku +budi ini ibu budi
sumber:www.google.com






Tapi, saya bukan mau membahas tentang metode belajar membaca apatah lagi membandingkan metode membaca, karena BUDI yang satu ini berbeda.

Di postingan sebelumnya, saya telah sedikit menjabarkan trik2 awal memetakan mimpi melanjutkan studi..Nah di postingan ini, saya akan berbagi pengalaman perahu yang saya pakai dalam melanjutkan studi. BUDI. Itu apa? Yang jelas BUDI itu nama, atau tepatnya singkatan dari Beasiswa Untuk Dosen Indonesia (BUDI). Budi adalah program bersama antara Dikti dari Kemenristekdikti, dan LPDP. 

Di Indonesia, beasiswa LPDP itu bagaimana sudah banyak wara-wiri di google, BUDI pun saya yakin begitu...(yang saya bagi ini, boleh dibilang agak sedikit telat, tapi....baru semangat nulis, gimana dong...hehehehe). 

So back to BUDI, dulunya di Indonesia beasiswa untuk dosen itu-banyak sih-, tapi saya fokus dari sponshorsip pemerintah Indonesia itu ada 2: Dikti dan LPDP. Dari Dikti dulu tahun 2015 namanya BPP-LN dan BPP-DN (untuk LN dan DN untuk pembeda dalam dan luar negeri). Dan ada LPDP dengan BPI nya (Beasiswa Pendidikan Indonesia) yang dulunya juga terbuka untuk dosen. Pasca tahun 2015-tepatnya tahun 2016-, BPP-LN dan BPP-DN berubah menjadi BUDI-LN/DN. Ide ini digagas oleh Pak JK yang meminta agar pintu beasiswa melalui satu pintu saja (LPDP sebagai penyangga dana) -itu info yang saya dapatkan dari Dikti sewaktu mengikuti lokakarya pra keberangkatan beasiswa di Yogyakarta bulan Agustus kemarin-. So, lahirlah BUDI-LN sebagai perpaduan Dikti dan LPDP

Proseduralnya sama dengan BPP-DN yaitu: seleksi berkas dan wawancara. Di artikel ini, saya akan membahas yang seleksi berkas saja dulu, yang wawancara nanti saya buat lagi Insya Allah 

Tahapan awalnya, tentu saja mendaftar di laman BUDI, lalu silahkan pilih ingin memilih BUDI DN atau BUDI LN. Untuk mendaftar online ini harus menyiapkan berkas-berkas: KTP, Ijazah dan transkrip, research proposal,surat keterangan sehat, surat keterangan bebas narkoba, surat keterangan bebas TB, TOEFL sertifikat, surat ijin dari pimpinan mengikuti program beasiswa, Surat pernyatan bersedia kembali setelah selesai, LoA, dan Letter of Motivation (untuk model Motivation Letter itu bagaimana, silahkan dilihat di sini).


                                                                   model form yang harus dilengkapi di site BUDI LN

Untuk LoA, ini adalah hasil dari artikel sebelumnya, dan untuk tahap ini usahakan untuk mendapatkan LoA yang unconditional (tanpa syarat), karena yang jenis LoA inilah yang lebih diutamakan selain tema research tentunya. Biasanya bentuk-bentuk LoA itu berbeda dari setiap uni, Alhamdulillah, kalau dari Ehime university bentuknya seperti di bawah.


Selain mengupload beberapa berkas, kita juga diminta untuk mengisi beberap form
- Ringkasan proposal riset berupa milestone per semester (in english).
Untuk form ini, saya cukup mengisikan point-point utma dari time table saya di research proposal setiap semesternya
- Sebutkan kontribusi bagi perbaikan proses belajar dan atmosfer penelitian di perguruan tinggi tempat bekerja setelah selesai studi,
Yang form ini, silahkan berimajinasi...hehehe
- Tuliskan rencana yang akan dilakukan selama studi minimal 1500 kata, maksimal 2000 kata.
Hindari menuliskan rencana jalan-jalan di form ini...hehehe. Rincikan komponen di time table, tambahkan bagian motivasi, anggaran biaya dan rencana pasca studi. modelnya bisa dilihat di sini
- Jelaskan kontribusi yang bisa diberikan bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan dilakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi/komunitas saya.
- Tuliskan essay tentang "Sukses Terbesar dalam Hidupku" minimal 500 kata, maksimal 700 kata.     Untuk essay ini. contohnya bisa dilihat di sini   .  

Setelah semua form diisi dan diupload, terakhir adalah cetak kartu peserta. Kartu peserta ini dilengkapi dengan barcode, dan  inilah nanti yang akan jadi semacam ID kita untuk mengikuti wawancara. Satu tips terakhir untuk pengisian form dan upload berkas ini adalah: hindari berbuat curang -selain itu dosa-, percayalah itu bisa dilacak, termasuk teknik copas motivation letter atau essay. Dan minta tolong ke teman yang fasih cas cis cus english untuk menjadi proofreader tulisan kita. Good luck!